Burung Bertasbih

Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Daud kurnia dari Kami. (Kami berfirman): "Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud", dan Kami telah melunakkan besi untuknya. Q 34:10

Tumbuhan Menghiasi

"Dan Kami lihat bumi itu kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah." Q 22:5

Kejadian Burung

"Dan apakah mereka tidak memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya (di udara) selain yang Maha Pemurah. Sesungguhnya Dia maha Melihat segala sesuatu." (Q 67:19)

Kepahlawanan Kuda

Maka ia (Nabi Sulaiman AS) berkata: "Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Tuhanku sampai kuda itu hilang dari pandangan. Q 38:32"

Serigala

Berkata Nabi Ya'qub AS: "Sesungguhnya kepergian kamu bersama Yusuf amat menyedihkanku dan aku khawatir kalau-kalau dia dimakan serigala, sedang kamu berlengah daripadanya." Q 12:13

Friday, September 19, 2008

How to prepare oneself for The Night of Power (Laylatul Qadr)?


(I) Preparing Mentally

* Strive to keep Allah (SWT) at the fore of one's mind the whole night long.

* All the Ibadah (worship) done should be recited in the state of being completely awake, aware, conscious, and with a live heart. If one feels that one will not be able to concentrate then start reciting from now "We are from Allah and towards Him is our return." - Holy Quran (2:156) for it is considered as a tragedy if one can not in this night receive the divine grace in supplications. "Their prayers ascend upwards and reaches Allah, their words are accepted, and Allah loves to listen to their prayers the way a mother likes her own child."

Is not it shameful that the prayers which ascend upwards should be recited from the tip of the tongue, while the heart and soul remain occupied in worldly affairs?

Many a times, one feels that one cannot 'properly' perform a certain Ibadah and so decided to forgo it. One should not do listen to this 'waswas' instead, one should perform it and more, for acceptance lies in the Hand of the Mercy of Allah (SWT).

(II) Preparing Physically

* For worshipping in this night a suitable place, dress, and perfume should be arranged in advance (comfortable dress which does not distract us).

* Paying alms during this night - to the people who really deserve financial support.

* Follow the translation of the Duas in order to understand what you are reciting for lutf is only got when one knows what one is reciting.

(III) Preparing Spiritually

* Increase ones eagerness for receiving the promised bounties and blessings.

* Select worships and deeds which are more in harmony with ones mood.

* When one stands for prayer, or any other Ibadah, to briefly spare a moment to think about the wisdom of that action/its meaning etc for e.g. Why am I standing towards Makkah? To realize that when I stand on my two feet, it indicates my hope and fear about the acceptance of my worship.

* Resorting (Tawassul) to Ahlul Bayt (as) - With persistence, supplicating in a polite and soft manner, with words and content arousing their sympathies, should beseech them for bestowing upon us the grace of being vigilant during this night.

* Crying and Shedding Tears: that during these nights ones fear, humility, tears, crying, anguish and lamentation be increased as much as possible. The Learned Scholar Hajj Mirza Javad Agha Maliki Tabrizi (ra) in his book (Suluk-i Arifan) Spiritual Journey of the Mystics tell us that One of the best method is that one should tie ones hands around ones neck; should pour dirt upon ones head; should place ones head against a wall; sometimes one should stand and sometimes one should cry; should imagine oneself at the scene of Judgment Day; and the way sinners are rebuked with harshness, then one should imagine and be scared least Allah (the Glorious, the Exalted) orders: "Seize ye him, bind ye him, burn ye him in the blazing fire, and make him march in a chain whereof the length is seventy cubits." - Holy Quran (69:30-32)

Then one should cry: "O' Thou are the most compassionate, and Thou Who are the shelter of unsheltered ones!" "Where is Your vast blessing? Where is Your infinite forgiveness? Where are Your love and benevolence?" Ask for forgiveness of past sins in the most appealing manner with a promise to try never to return to the sins again - a TAWBA in every sense of the word Present ones requests before the Almighty with full hope that they will be answered.

Prophet Mohammad (saw) when asked what one should invoke Allah (SWT) during these nights, said: "Ask for your safety (here and in the hereafter)".

source: http://www.ezsoftech.com/RAMADAN/ramadan32.asp

Tuesday, September 16, 2008

Mencari tauladan…

Semestinya hidup sesorang tidak akan sempurna. Malah, seseorang tidak mampu untuk memuaskan hati setiap orang dan memenuhi segala kehendak, tuntutan dan keinginan mereka.

Hidup ini semestinya dalam mencari. Sentiasa mencari. Mencari jawapan bagi setiap persoalan apa, siapa, di mana, bila, kenapa, bagaimana dan sebagainya. Dalam pencarian itu sebenarnya tanpa disedari menambahkan lagi titik-titik persoalan.


Contoh persoalan yang mudah ialah persoalan mengenai jodoh. Pasti yang akan terbit dari benak fikiran ialah, siapa jodoh aku? Di mana akan kutemui jodoh tersebut? Bagaimana cara yang sebetulnya untuk aku mendapatkan atau mencari jodoh yang terbaik utnuk diri aku? Apakah ciri-ciri jodoh yang diidamkan? Kenapa mesti dia yang menjadi harapan untuk dijadikan jodoh ataupun teman hidup? Adakah aku layak untuk dijodohkan dengannya?


Persoalan demi persoalan pasti akan terus-menerus menerjah di ruang fikiran. Itu baru persoalan mengenai jodoh. Belum lagi persoalan pembelajaran, persoalan duit, persoalan tugas, persoalan kerja dan segala yang berkait dengan perkara perkara tadi. Itu dasar persoalan dan tidak termasuk cabang-cabangnya lagi.


Mencari dan memikirkan segala tauladan yang berlaku disekeliling diri kita adalah dituntut. Kadang-kadang Allah SWT telah menunjukkan jalan dan caranya. Namun, disebabkan kita mahu mengikut kehendak nafsu dan degil dengan keegoan ‘hamba’ yang tidak sepatutnya akhirnya membawa dukacita kepada diri sendiri. Bak kata, lain yang diharap, lain yang jadinya.


Mencari tauladan atau dengan kata lain mencari hikmah dalam keserabutan duniawi bukanlah suatu yang mudah. Ia memerlukan mata hati yang bersih daripada noda dan dosa. Mata hati yang tidak ‘buta’!


Selalunya kita mahu apa yang kita mahu. Mendapatkan apa yang dikehendaki. Hakikatnya, apa yang lahir dari kehendak diri, bukanlah kejernihan tuntutan sebenar Tuhannya. Sentiasa apa yang dimahukan oleh hamba sering tersasar tujuannya. Ini kerena, kehendaknya bersumberkan nafsu. Akhirnya, setelah tersungkur barulah disedari bahawa kehendak, kemahuan dan keinginan Allah SWT itulah yang seharusnya dipenuhi.


Kita selalu berdoa kepada Allah agar Dia memenuhi segala hajat dan keinginan kita. Tapi, malangnya dalam masa yang sama kita sering terleka melaksanakan kehendak dan perintahNya!! Kalau difikirkan dengan akal yang waras, adakah segala permintaan kita tersebut akan dipenuhi sedangkan kita tidak memenuhi perintah Allah. Malah kita sesama manusia pun tidak akan memenuhi permintaan orang yang tidak pernah memenuhi permintaan kita. Inikan pula, antara status sebagai seorang hamba dengan Tuhannya. Sungguh jelek perbuatan dan akhlak ini!!


Mencari tauladan atas peristiwa yang telah terjadi di sekeliling kita amatlah dituntut. Malah dalam al-Quran sendiri banyak menggunakan farsa ‘adakah kamu tidak memikirkannya’, ‘adakah kamu tidak mengambil pengajaran’ dan sebagainya yang seerti dengan frasa tersebut.


Hanya mengharapkan rahmat dan kasih sanyang Allah tapi dalam masa yang sama, tidak melaksanakan tuntutan Allah, merupakan perbuatan yang sia-sia. Natijahnya, akan memperoleh kerugian ‘di sana’ kelak.


Di bulan Ramadhan ini, antara yang aku melihat secara zahirnya apa yang berlaku dan benar-benar menarik perhatian aku. Suasana di Mesir.


Seorang makcik berjalan di tepi jalan raya di tengah bandar dengan tasbih di tangannya. Aku bersangka baik, pastilah dia berzikir menggunakan tasbih tersebut.


Seorang anggota polis, sambil menjaga lalulintas di tengah-tengah persimpangan jalan raya yang sibuk, membaca Quran kecil yang berada di tangannya.


Seorang anggota tentera yang aku fikir mungkin berpangkat prebet, membelek dan membaca Quran, memenuhi masa lapangnya.


Membudayakan ibadah dalam kehidupan, dapat pahala. Dengan syarat, niatnya ibadah.


Perjalanan aku dari Kaherah ke Tanta atau Tanta ke Kaherah, diperdengarkan ayat-ayat suci al-Quran, walau aku tak nafikan ada yang pasang lagulagu arab yang pada aku benar-benar menyakitkan telinga. Bukan aku tak suka lagu-lagu arab, tapi dalam suasana dalam van atau tremko yang panas dan seangkatan dengannya membuatkan kepala ini benar-benar sakit.


Dua orang arab bergaduh. Mungkin orang yang pernah nampak bagaimana orang arab bergaduh lebih tahu keadaannya. Dalam keadaan bergaduh tersebut, salah seorang mengajak seterunya untuk meneruskan pergaduhan. Katanya, “Ya habib, ta’al..” Kalau nak tejemahkan dalam bahasa Melayu, “Wahai sayang, kemari…” Aku yang ketika itu sudah berada di dalam perut tremko tersenyum sendirian.


Pastiya, babak yang berlaku ke atas diri kita sendiri lebih mendalam untuk kita fikir dan renungkan. Lebih mendalam kita ketahui sebab-musababnya serta natijah yang telah berlaku atas perkara tersebut.


Episod mencari tauladan dalam kehidupan pastinya tidak akan berakhir sehinggalah sempurna nyawa keluar dari badan. Membaca Yaasiin, doa, ayat-ayat Quran, syahadah di telinga orang yang sedang nazak, itulah tauladan yang terakhir diterima.


Kadang-kadang sayang seribu kali sayang, kita sering terlepas tauladan yang sebenarnya menunjuki kehidupan kita sehingga akhirnya kita dalam penyesalan. Tersungkur. Dan yang lebih malang, tersungkur di tempat yang sama kali kedua, ketiga dan seterusnya.


Hidup dalam mencari…

Monday, September 8, 2008

Bulan Ramadhan bulan penuh keberkatan..


Wahai saudaraku, Ramadhan merupakan bulan yang penuh dengan keberkatan dan pengampunan Allah SWT. Bulan ini merupakan bulan yang terbaik daripada segala bulan di sisi Allah SWT. Setiap hari di dalamnya merupakan hari yang terbaik dari sekelian hari dan malamnya merupakan yang terbaik dari sekelian malam. Setiap jam merupakan saat-saat yang penuh dengan rahmat Allah SWT.


Bulan Ramadhan merupakan sebuah ‘jemputan’ kepada umat Islam. Sebagaimana yang kita ketahui, bulan ini merupakan bulan yang terpilih tanda kemurahan dan keagunganNya. Hanya di bulan ini sahajalah, apabila kita bernafas ia merupakan zikir dan apabila kita tidur ianya merupakan ibadah. Kedua-duanya akan diperolehi pahala ibadah.


Di bulan Ramadhan ini, hendaklah kita banyak berdoa agar segala amalan kebaikan yang kita lakukan akan diterima. Oleh sebab itu, kita digalakkan banyak merayu kepada Allah, dengan cara yang betul, sepenuh hati. Berdoa agar dijauhi daripada segala dosa dan kejahatan, memohon perlindungan daripada Allah SWT, melaksanakan ibadah puasa dengan sebenar-benar tuntutan dan memperbanyakkan tilawah Al-Quran.


Sesungguhnya, individu yang tidak menerima belas kasihan dan kebaikan daripada Allah SWT pada bulan Ramadhan ini akan menjadi manusia yang sangat rugi dan malang serta bakal menemui pengakhiran yang mendukacitakan. Semasa kita menjalankan ibadah puasa, kita hendaklah memperingati lapar dan dahaga yang akan dialami di akhirat kelak. Selain itu kita mengenang akan kebuluran dan kesusahan yang dihadapi oleh sebahagian masyarakat dunia yang hidup melarat penuh kemiskinan dan kedhaifan. Mudah-mudahan hati-hati kita akan tersentuh, menjadi lembut dan pemurah lantas memberi sedekah dan sumbangan kepada mereka yang memerlukan.


Pamerkan hormat kepada yang lebih tua dan berikan kasih sayang kepada yang lebih muda. Jadilah seorang yang baik dalam perhubungan sesama ahli keluarga, rakan-rakan mahupun jiran tetangga. Peliharalah lidah daripada kata-kata yang tidak baik, nista dan menyakiti. Cegahlah mata daripada melihat perkara-perkara yang mendatangkan syahwat, dilarang dan dicegah oleh syara’. Peliharalah telinga daripada sebarang perkara yang tidak sepatutnya kita dengar daripada sebarang jenis umpatan, makian dan perkara lucah.


Berkelakuan baiklah terhadap anak yatim dan anak-anakmu kelak akan diperlakukan dengan baik ketika kamu telah tiada. Pohonlah kepada Allah SWT agar Dia mengampuni segala dosa-dosamu. Angkat dan tadahlah tangan ketika solat yang mana merupakan masa terbaik untuk seseorang hamba ‘meminta’ kepada Tuhannya. Apabila kita kerap meminta kepadaNya, nescaya Dia akan menyahut dan memperkenankan doa kita. Apabila kita memerlukanNya, Dia akan ‘menjawab’ panggilan kita. Apa sahaja yang kita minta, insya Allah akan diperkenankan mengikut ilmuNya Yang Maha Luas.


Ramadhan merupakan bulan tarbiah. Ia juga merupakan bulan untuk individu islam memperbaiki diri dan seterusnya memurnikan keadaan umat Islam keseluruhannya. Allah SWT telah menjadikan Ramadhan ini sebagai platform yang penuh berkat yang dipenuhi dengan pelbagai kebaikan dan ganjaran bagi sesiapa yang mahu berusaha kearahnya.

Mari kita kenang kembali bagaimana kehidupan Ramadhan kita tahun lepas dan yang sebelumnya. Adakah kita telah memenuhi segala tuntutan dan fadhilat yang ditawarkan kepada kita? Apakah kesimpulan yang kita perolehi terhadap ibadah puasa yang lepas apabila berlalunya bulan tersebut? Bagaimanakah perubahan yang berlaku terhadap diri kita dan masyarakat? Bertambah baik atau masih di takuk yang lama? Atau adakah kehidupan kita lebih teruk dari yang sebelumnya? Na’uzubillahi min zalik.

Jadikanlah Ramadhan tempat kita mengubah diri. Buang yang kotor dan keruh, ambil dan kutip yang jernih dan bersih. Mungkin sebelum-sebelum ini kita kerap melakukan kesalahan dan dosa. Ayuh, jadikan bulan yang Allah kurniakan ini sebagai tempat untuk kita me’wujud’kan diri yang baru dan segar. Diri yang mempunyai niat, azam dan cita-cita yang baru, penuh murni berlandaskan syara’. Status kita sebagai seorang “hamba” perlu dihayati agar kita terlepas daripada sebarang azab dan siksa di dunia mahupun di akhirat kelak.


“Dan juga orang-orang yang apabila melakukan perbuatan keji, atau menganiaya diri sendiri, mereka segera ingat kepada Allah lalu memohon ampun akan dosa mereka - dan sememangnya tidak ada yang mengampunkan dosa-dosa melainkan Allah -, dan mereka juga tidak meneruskan perbuatan keji yang mereka telah lakukan itu, sedang mereka mengetahui (akan salahnya dan akibatnya). Orang-orang yang demikian sifatnya, balasannya ialah keampunan dari Tuhan mereka, dan Syurga-syurga yang mengalir di bawahnya beberapa sungai, mereka kekal di dalamnya; dan yang demikian itulah sebaik-baik balasan (bagi) orang-orang yang beramal.”

(Surah Ali ‘Imran 3:135-136)


Dirikanlah solat sunat tarawih yang tiada tuntutannya melainkan di bulan Ramadhan dengan penuh ketekunan dan kekhusyukan. Perbanyakkanlah selawat kepada Nabi SAW, doa, tilawah Al-Quran, zikir dan istighfar kepada Allah SWT. Mudah-mudahan diampunkan dosa-dosa kita yang lalu dan yang kemudian. Bangunlah setiap malam menghidupkan ‘qiamullail’, bermunajat kepadanya memohon hidayah dan bantuan dalam menjalani kehidupan ini. Berdoalah agar dipertemukan dengan lailatul qadar, malam yang lebih baik dari 1000 bulan.


Paksa diri serta bermujahadahlah dalam melaksanakan ketaatan dan meninggalkan kemungkaran. Moga-moga, amalan kita di dalam bulan Ramadhan ini akan diterima oleh Allah SWT. Moga-moga, kelak kita akan dibangkitkan bersama-sama Rasulullah SAW, para Nabi AS, para sahabat baginda RA, orang-orang yang soleh dan bertaqwa, para syuhada’ dan para wali Allah. Amiin…


“Ya Allah, terimalah amalan kami yang sedikit ini. Jadikanlah Ramadhan kali lebih baik dari Ramadhan yang lepas dan sebagai tapak kami memperbaiki diri dan amalan kami. Kurniakanlah kepada kami kekuatan dan bantuan dalam melaksanakan solat, puasa, qiamullail dan tilawah Quran. Wahai Tuhan Pemilik arasy, jadikanlah kami sebagai hambaMu. Kurniakanlah kepada kami syafaat Nabi kami Muhammad SAW di ahkirat kelak. Wahai Tuhan sekelian alam, dengarlah rintihan kami ini”