Burung Bertasbih

Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Daud kurnia dari Kami. (Kami berfirman): "Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud", dan Kami telah melunakkan besi untuknya. Q 34:10

Tumbuhan Menghiasi

"Dan Kami lihat bumi itu kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah." Q 22:5

Kejadian Burung

"Dan apakah mereka tidak memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya (di udara) selain yang Maha Pemurah. Sesungguhnya Dia maha Melihat segala sesuatu." (Q 67:19)

Kepahlawanan Kuda

Maka ia (Nabi Sulaiman AS) berkata: "Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Tuhanku sampai kuda itu hilang dari pandangan. Q 38:32"

Serigala

Berkata Nabi Ya'qub AS: "Sesungguhnya kepergian kamu bersama Yusuf amat menyedihkanku dan aku khawatir kalau-kalau dia dimakan serigala, sedang kamu berlengah daripadanya." Q 12:13

Friday, January 18, 2008

YA ALLAH … PILIHKAN UNTUKKU !

Ibn Athaillah al Sakandari


Sikap mengatur dan menginginkan sesuatu yang telah ditentukan oleh Allah swt. merupakan hijab yang paling kuat menutupi hati dari Sang Pencipta. Karenanya, jiwa ini baru menjadi baik ketika keluar dari pilihan diri sendiri menuju pilihan Tuhan.

Mengatur yang tercela adalah yang mencari dunia untuk dirinya sendiri, bukan untuk Tuhannya, untuk dunianya, bukan untuk akhiratnya, sedangkan mengatur yang terpuji yakni yang mendekatkan hamba kepada Allah swt., sekaligus mengantarkannya menuju ridha-Nya.

Segala puji bagi Allah, satu-satunya pemilik kebenaran, zat yang berhak mengatur, satu-satunya pembuat hukum dan ketentuan. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya. Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.

Dia adalah Raja Diraja. Tidak ada sesuatupun, besar maupun kecil, yang berada di luar kekuasaannya. Tak ada yang menyerupai dalam kesempurnaan sifat-Nya. Kesempurnaan sifat-Nya tak terbayangkan.

Dia Maha Mengetahui, Tak ada sesuatupun dalam diri ini yang luput dari pengetahuan-Nya.

Dia Maha Berilmu. Ilmu-Nya meliputi awal dan akhir segala urusan.

Dia Maha Mendengar. Tak ada yang luput dari pendengaran-Nya, baik yang nyaring maupun yang samar.

Dia Maha Memberi Rejeki, yang terus menerus melimpahi makhluk-Nya dengan makanan.

Dia Maha Tegak, yang mencukupi seluruh makhluk dalam seluruh keadaan mereka.

Dia Maha Pemberi, yang menganugerahi setiap jiwa eksistensi kehidupannya.

Dia Maha Kuasa. Kepada-Nya seluruh manusia kembali setelah kematian mereka.

Dia Maha Menghitung. Dia akan memberikan balasan kepada manusia yang datang membawa amal kebaikan dan keburukannya. Maha Suci Tuhan yang telah memberi kebaikan kepada hamba-hambanya sebelum mereka mewujud. Dia mencukupi rezeki mereka, baik ketika mereka mengakui maupun ketika membangkang. Dia menggenapi seluruh wujud dengan karunia-Nya. Keberadaan-Nya menjaga keberadaan semesta melalui bentangan keabadian-Nya, yang tampak lewat hikmah-Nya di bumi dan lewat kekuasaan-Nya di langit.

Saudaraku, ketahuilah...

Allah telah memasukkanmu ke dalam golongan orang yang mencintai-Nya, menganugerahimu kedekatan kepada-Nya, memberimu minuman para kekasih-Nya, menyelamatkanmu lewat hubungan yang tak terputus dari-Nya, mengaitkanmu dengan para hamba yang terhubung dengan-Nya.

Dengan cahaya-Nya manifestasi-Nya Dia pecahkan kekerasan hati mereka, setelah mereka mengetahui bahwa Dia tak terjangkau mata dan tak terjamah akal. Dia bukakan taman kedekatan ke hati mereka. Dia perlihatkan kepada mereka pengaturan-Nya yang telah berlaku atas mereka sehingga merekapun menyerahkan kendali kepada-Nya. Dia singkapkan kepada mereka kelembutan karunia penciptaan-Nya sehingga mereka tidak menentang dan membangkang.

Mereka pasrah dan bersandar kepada-Nya dalam selaksa perkara karena tahu bahwa seorang hamba tidak bisa mencapai ridha-Nya kecuali dengan sikap ridha dan tidak akan mencapai penghambaan sejati kecuali dengan pasrah pada ketentuan-Nya. Mereka tidak disibukkanoleh segala sesuatu selain Dia ; merekapun tak tersentuh kotoran.

Mereka tunduk pada keagungan-Nya dalam setiap ketentuan yang berlaku ; mereka senantiasa pasrah pada segala hukum-Nya.

Siapapun yang ingin sampai kepada Allah swt. tentu saja harus datang melalui pintu-Nya dan mencapai-Nya lewat keberadaan sebab-sebab-Nya.

Setelah itu jangan pernah berupaya untuk ikut mengatur atau ikut campur dalam pengaturan dan ketentuan-Nya.

(Diambil dari Pendahuluan "Mengapa Harus Berserah" Karya Ibnu Athaillah)



Wednesday, January 16, 2008

Jodoh telah ditetapkan...?

Bismillahirrahmanirrahim.

"Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (syurga)."

-Surah an-Nur 24:26-


Walaupun ayat ini berkisarkan kisah fitnah yang dilontarkan kepada Saidina 'Aisyah r.a. dan Safwan r.a. yang dicatit sebagai 'Qishshatul Ifk' di dalam Tafsir al-Munir karangan Dr. Wahbah az-Zuhaili, namun istifadahnya adalah sepanjang zaman. Firman Allah ini bertujuan menyucikan mereka daripada sebarang tuduhan dan fitnah yang dilontarkan. 'Aisyah adalah isteri Nabi s.a.w., manakala Safwan r.a. pula adalah sahabat Baginda. Mereka berdua tergolong daripada golongan yang mendapat kemuliaan daripada Allah s.w.t.

Fokus di dalam penulisan ini bukanlah untuk menerangkan kisah yang berlaku terhadap isteri Baginda s.a.w., tetapi berkisar bentuk pasangan yang telah Allah jamin dan janjikan untuk manusia. Sesungguhnya firman Allah merupakan suatu kebenaran dan kepastian kerana di awal-awal Qur'an lagi telah diterangkan mengenainya. "Inilah Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa" (Al-Baqarah 2:2). (Sebagai) janji yang sebenarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janjiNya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (Surah ar-Rum 30:6). Maka apabila kita renungi setiap inci kehidupan ini, baik yang kita alami sendiri mahupun dari pengalaman dan perjalanan kehidupan orang lain, jelas menunjukkan akan kebenaran dan kepastian segala janji-janji Allah s.w.t.

Setiap jiwa, lelaki mahupun perempuan pasti mengidamkan pasangan yang soleh dan solehah. Kehendak dan keazaman ini adalah naluri yang Allah ciptakan untuk hamba-hambanya. Kehendak dan keazaman ini merupakan sesuatu yang indah dan ianya selari dengan tuntutan naluri insaniah setiap manusia. Sesungguhnya Allah itu cantik (indah) dan menyukai yang cantik (indah). Cantik dan indahnya sifat dan perilaku setiap individu lelaki dan perempuan itu datangnya daripada Allah. Maka fitrah itulah yang telah Allah ciptakan untuk manusia. Andai wujud keadaan yang bertentangan dengannya, itu melambangkan dirinya telah terpesong daripada fitrah kejadian manusia.

Kita mahukan pasangan kita pasangan yang soleh, tetapi kita tidak sepertinya. Kita mahukan pasangan kita kuat keimanannya dan tinggi ketaatannya, tetapi diri kita tidak bersifat sedemikian. Seperti ungkapan kata-kata pujangga, "Andai engkau mengidamkan lelaki sehebat Saidina Ali k.w.h, jadilah perempuan sehebat Saidatina Fatimah r.a. Andai engkau mengidamkan perempuan sebaik Saidatina Fatimah, jadilah lelaki sebaik Saidina Ali k.w.h.

Kita merupakan umat yang tergolong di dalam golongan Ahli Sunnah wal Jamaah dan I'tiqadI'tiqad al-Asya'irah. Sesungguhnya perbuatan manusia itu adalah dengan usaha beserta kemampuaanya (manusia tersebut) bersama-sama Qudrat Allah s.w.t. Perbuatan taat seseorang hamba adalah disebabkan taufiq daripada Allah s.w.t. Begitu juga dengan sebarang perbuatan maksiat yang dilakukan oleh seseorang hamba. Ia merupakan kehendak Allah jua. Mahupun begitu, setiap perbuatan manusia merupakan ikhtiari iaitu manusia mempunyai pilihan terhadap apa yang mahu dilakukannya. Antara melakukan ketaatan atau maksiat kepada Allah s.w.t. (pegangan) kita adalah

Sesiapa yang mengidamkan pasangan yang soleh dan solehah, tidak bolah tidak mereka wajib memiliki sifat soleh dan solehah tersebut. Andai mengidamkan isteri yang taat kepada suami dan ibu bapa, kita sendiri perlulah mentaati ibu dan bapa kita dan lebih-lebih lagi suruhan Allah. Andai mengidamkan suami yang penuh dengan sifat kasih dan sayang, kita mestlah juga memiliki dan mensebatikan diri kita dengan sifat sedemikian terhadap orang tua, kanak-kanak, orang miskin, orang kurang berupaya, anak-anak kecil, tumbuh-tumbuhan, haiwan-haiwan yang melata dan juga makhluk pegun yang lain. Andai mengidamkan pasangan yang mulia akhlaknya, kuat ibadahnya, tinggi ilmunya, maka kita hendaklah sedaya upaya memastikan ciri yang diidamkan itu terlebih dahulu sebati dengan jiwa dan tingkah laku kita.

Sepertimana yang disebut, setiap manusia mempunyai ikhtiar ataupun pilihan dan perbuatan mereka. Maka apabila kita berikhtiar dan membuat pilihan untuk mendapatkan pasangan seperti yang kita idamkan itu, maka sewajibnya kita berikhtiar mang'islah' diri kita dengan akhlak yang dianjurkan oleh Islam.

Dalam realiti kehidupan kini, terdapat individu yang tidak terlepas dari melakukan maksiat dan kemungkaran kepada Allah s.w.t. Atas desakan dan keinginan hawa nafsu yang memuncak, akhirnya mereka tanpa segan dan takut kepada Allah s.w.t. sanggup melakukan perbuatan yang yang tidak senonoh. Malah ada yang terlanjur melakukan perzinaan. Seperti tidak memikirkan betapa pedihnya azab dan dahsyatnya bahang penderitaan api neraka. Maka tidak hairanlah Allah berfirman: "Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk"(Surah al-Isra' 17:32). "… sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan …" (Surah Yusuf 12:53).

Akhirnya lelaki berzina akan mendapat pasangan yang juga seorang penzina, orang yang fasiq (suka melakukan dosa) akan mendapat pasangan yang juga seorang fasiq, orang yang buruk akhlaknya akan diketemukan oleh Allah s.w.t. dengan orang yang buruk juga akhlaknya. Laki-laki yang berzina tidak mengahwini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikahwini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mukmin (Surah an-Nur 24:3). Maka, janganlah kita berangan mahu memiliki isteri yang solehah sedangkan kita sering melakukan dosa dan maksiat. Janganlah kita berangan untuk mendapat suami yang soleh sedangkan kita buruk akhlak dan tidak menjaga maruah diri. Janganlah kita mengharapkan kasih sayang dan petunjuk daripada Allah s.w.t. sedangkan diri kita masih bergelumang dengan perbuatan dosa dan maksiat kepada Allah s.w.t.

Walaubagaimanapun, bagi golongan ini ada di antara mereka telah insaf atas perbuatan maksiat dan dosa yang telah mereka lakukan. Mereka sedar bahawa percintaan atau perhubungan yang bertunjangkan hawa nafsu bukanlah perhubungan yang sejati dan pastinya tidak akan membawa kepada kebahagiaan. Perhubungan ini akan membawa kepada kehancuran, porak-peranda, kacau bilau, berpecah-belah dan sebagainya serta tidak mendapat keredhaan Allah. Perhubungan yang membawa kebahagiaan dan keredhaan Allah adalah yang berteraskan hukum agama dan sunyi daripada sebarang keburukan, maksiat dan kemungkaran kepadaNya. Sesungguhnya bagi mereka ada keampunan dan pintu taubat masih terbuka.

Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi)

-Surah az-Zumar 39:54-

Dan mohonlah ampun kepada Tuhanmu kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih.

-Surah Hud 11:90-

Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), nescaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaanNya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat.

-Surah Hud 11:3-

Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat (melawat untuk mencari ilmu pengetahuan atau berjihad), yang ruku', yang sujud, yang menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu.

-Surah at-Taubah 9:112-

Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu."

-Surah at-Tahrim 66:8-

(Malaikat-malaikat) yang memikul 'Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): "Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala.

-Surah al-Mu'min 40:7-

Bagi pasangan dan individu yang telah lerlanjur melakukan maksiat dan dosa kepada Allah s.w.t. hendaklah mereka insaf dan bertaubat serta berusaha sedaya upaya untuk tidak kembali mendekati perbuatan munkar tersebut. Andai hanya salah seorang diri daripada mereka sahaja yang bertaubat dan seorang lagi masih tidak mahu bertaubat dan insaf, hendaklah yang telah bertaubat tersebut menjauhi pasangannya itu. Hatta andai kedua-duanya sudah bertaubat namun masih tidak mampu untuk berkahwin disebabkan masalah kewangan dan sebagainya, hendaklah mereka saling menjauhkan diri. Menjauhkan diri bagi memastikan keinginan terhadap pasangan hilang dan dalam ertikata ingin kembali kepada Allah s.w.t. Atas kehendak dan keazaman diri yang tinggi, ia perlu dilaksanakan kerana perintah Allah itu yang terlebih utama serta keredhaanNya yang terlebih mulia.

Ini berdasarkan penjelasan mengenai hukum bagi individu yang melakukan zina. Bagi pasangan yang telah berkahwin hendaklah direjam dengan batu sehingga mati dan bagi pasangan yang belum berkahwin, hendahlah disebat dengan seratus kali sebatan. Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman (Surah an-Nur 24:2) Ada mazhab yang mengatakan, kedua-dua pasangan hendaklah dipisahkan bagi pasangan yang belum berkahwin. Si lelaki hendaklah dipenjara dan seterusnya dibuang negeri (Lihat Tafsir al-Munir, tafsir surah an-Nur, hukuman bagi penzina). Hikmah bagi hukuman ini adalah bagi memastikan penzinaan untuk kali kedua tidak akan berulang. Bagi mereka yang masih belum terlanjur melakukan zina, hendaklah mereka sedaya upaya menjauhkan diri dengan pasangan mereka dengan apa cara sekalipun agar keinginan tersebut tidak kembali dan seterunya menjamin kesucian dan kehormatan diri. Kesalahan yang telah dilakukan janganlah dihebah-hebah dan diceritakan kepada orang lain. Ini kerana, Allah secara fitrahnya akan menutupi segala kesalahan yang dilakukan oleh hambanya dan mengampuni dosa-dosa mereka seandainya mereka bertaubat.

Dan terhadap dua orang yang melakukan perbuatan keji (berzina) di antara kamu, maka berilah hukuman kepada keduanya, kemudian jika keduanya bertaubat dan memperbaiki diri, maka biarkanlah mereka. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

-Surah an-Nisaa' 4:16-

Sesungguhnya rahmat dan kasih sayang Allah s.w.t. sangat luas, seluas alam semesta ini. KeampunanNya mengatasi dan melebihi kemurkaanNya. Maka, andai mereka telah bertaubat dari dosa, sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat. Janganlah berputus asa untuk terus-menerus berdoa kepada Allah s.w.t. dikurniakan pasangan yang soleh dan solehah. Istiqamah dalam melaksanakan ketaatan dan menjahi segala kemungkinan kemungkaran. Semoga mahligai yang dibina berakar umbikan kasih sayang, kejujuran dan persefahaman di antara pasangan yang disaluti keimanan serta ketaatan kepada Allah s.w.t.

Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya).

-Surah an-Naazi´aat 79:37-41-

Wallahu Taala A'lam…